Thursday, July 16, 2020

Allergic Rhinitis: Craving for Breathing Normally

Entah sudah berapa tissue ku habiskan..
Entah sudah berapa lama waktu ku gunakan..
Entah sudah berapa virus ku keluarkan..

Hanya untuk membuang ingus seumur hidup.
Terdengar biasa-biasa saja.
Tidak se-menderita pasien dengan penyakit kanker yang harus kemoterapi ataupun gagal ginjal yang harus cuci darah secara rutin.
Tetapi kami para penderita Allergic Rhinitis, (aku yakin) termasuk kategori orang yang sehat dan perlu menjalani kehidupan normal seperti orang lain pada umumnya, tanpa adanya toleransi tertentu.

Allergic Rhinitis

Dilansir dari alodokter.com, Alergi Rhinitis adalah peradangan yang terjadi pada rongga hidung akibat reaksi alergi (dapat dipicu oleh berbagai jenis alergen, contohnya serbuk sari, debu, atau bulu hewan).

Gejalanya dapat berupa:
  • Pilek atau hidung tersumbat.
  • Bersin-bersin.
  • Mata terasa gatal atau berair.
  • Mata membengkak dan kelopak mata bawah berwarna gelap.
  • Gatal-gatal pada mulut dan tenggorokan.
  • Muncul ruam pada kulit.
  • Lemas.
  • Batuk-batuk.
  • Sakit kepala.
  • Terkadang menimbulkan gangguan tidur, terutama pada rhinitis alergi yang parah.
Kata Dokter, ini bukan penyakit mematikan, namun tidak dapat disembuhkan. Dan penderitanya akan  terganggu olehnya seumur hidup. Entah semasa sekolah, kuliah, maupun bekerja.

I've been flu for decades

Orangtuaku mengatakan bahwa aku menderita alergi ini sejak kecil atau sekitar umur 2 tahun hingga saat ini (22 tahun). Artinya, sudah 20 tahun lebih aku tersiksa alergi (yang katanya) akan sembuh sendiri saat dewasa nanti. Aku tidak tahu apa penyebabnya, ataupun mengingat bagaimana penderitaanku saat kecil. Yang aku ingat hanyalah sebagai anak perempuan, aku sangat anti bermain boneka karena alergi terhadap bulunya. Aku pun tidak dapat memelihara hewan peliharaan seperti anjing atau kucing karena alasan yang sama.

Saat pagi aku bangun, membuang ingus adalah first thing in the morning yang kulakukan instead of mengecek handphone. Saat pergi ke puncak ataupun tempat-tempat yang dingin, teman-temanku sudah mengenal perubahan suhu dari indikator bersin ku. Di malam hari, aku sering kesulitan tertidur yang alasannya bukan karena stress maupun minum kopi, melainkan karena hidungku tersumbat. Orangtuaku juga menghindari menggunakan jasa laundry karna wewangiannya juga dapat men-trigger alergi ini. Jika waktu bersih-bersih datang, aku perlu menggunakan beberapa helai masker agar tidak terlalu banyak (jumlah) bersinnya (yes tetap akan bersin). Alergi ini menjadi salah satu alasan aku jarang menggunakan makeup, karena merasa terganggu. Dan saat beraktivitas pun, aku perlu istirahat mandiri beberapa kali karena seringkali merasa pusing. Teman-temanku pun sudah tahu kemana mereka pergi jika ingin mendapatkan tissue (karena aku selalu membawanya), entah saat mereka sendiri juga bersin, sesuatu tumpah, ataupun untuk bagi-bagi kue ulang tahun.

Aku tidak menghitung tepatnya sudah berapa dokter yang ku kunjungi ataupun berapa jenis obat / metode penyembuhan yang aku coba selama ini, yang jelas mereka tidak memberikan efek penyembuhan yang berarti. Diagnosanya pun berbeda-beda, ada beberapa dokter yang mengatakan sinusitis, rhinitis, alergi, polip, konka hipertrofi, dan lain-lain. Selang beberapa lama setelah fisioterapi dilakukan, ataupun berbagai macam obat telah habis dikonsumsi, pasti alergi akan muncul kembali. Namun sejauh ini, tidak ada dokter yang menganjurkan untuk melakukan operasi, dan kalaupun ada, I don't know if me nor my family can afford it or not. Hingga akhirnya aku menyerah dan mencoba menjalani hidup bersama si Rhini.

Inilah jenis-jenis obat yang pernah ku konsumsi:





Then, it getting worse

Namun, saat COVID-19 ini melanda, tampaknya keadaan semakin parah. Karena work from home, dimana sepertinya dirumah lebih banyak debu (salah satunya karena papaku hobi menkoleksi barang antik, ataupun elektronik jadul). Ditambah dengan bertambahnya anxiety masyarakat terhadap seseorang yang pilek atau bersin membuatku semakin ragu untuk membuang ingus didepan umum. Rasanya ingin tempel stiker "Saya alergi, bukan corona" dibelakang baju agar tidak di julid-in orang lain.

Karena merasa hidung semakin tersumbat, aku mencoba membuka harapan kembali dengan memeriksakannya di salah satu RS swasta dekat rumah. Dokter pertama (yang ternyata hanya asisten dokter) mendiagnosa sinusitis hanya dengan melihat peradangan di dinding hidung melalui kamera. Ia juga memberikan banyak sekali obat yang seperti biasa setelah dikonsumsi hingga habis, kambuh lagi.

Kemudian, aku dan keluarga pergi memeriksakan kembali dan dokter kedua menganjurkan untuk melakukan ronsen dan hasilnya tidak ada tanda-tanda sinusitis, namun terdapat Allergic Rhinitis. Dokter tersebut juga mendiagnosa konka hipertrofi yang dilansir dari emc.id terjadi disebabkan oleh pembesaran konka (struktur lekukan pada bagian lateral atau sisi hidung bagian dalam dan dilapisi oleh mukosa yang berfungsi sebagai penyaring dan pengatur temperatur) dan karenanya, aliran udara melalui hidung terhambat sehingga menyebabkan berbagai gejala seperti hidung tersumbat, napas tidak plong, dan nyeri dahi.

Now I know what happened

Kira-kira berikut gambaran pembesaran konka pada hidung yang kualami:
Atas: bagian dalam, bawah: bagian luar.

Ia juga mengatakan bahwa terdapat pembengkokan pada tulang hidungku, yang menyebabkan pembesaran konka pada lubang hidung kanan lebih dempet.


Radio frequency for konka hipertrofi

Dokter kedua memberikan saran untuk melakukan tindakan radio frekuensi untuk menangani konka hipertrofi. Yaitu tepatnya dengan menusukkan jarum panas untuk membakar dan mengecilkan dinding hidung yang menebal akibat sering pilek. Namun, tentu saja ini tidak menyembuhkan akar permasalahan timbulnya konka hipertrofi, yakni si Allergic Rhinitis, sehingga hidung masih akan tetap becek. Dan suatu saat, apabila pilek masih sering timbul, konka dapat membesar kembali (Dokter kedua tidak menginfokan estimasi waktu pembesaran kembali tersebut).

Namun kupikir, jika memang tidak ada cara lain, cara ini boleh dicoba mengingat kebetulan aku sudah memiliki asuransi yang dapat membantu sehingga tidak memberatkan dibanding menggunakan biaya pribadi. Aku mulai meminta surat rekomendasi dokter untuk dilakukan tindakan serta mengurus berkas-berkasnya dengan rumah sakit dan pihak asuransi hingga akhirnya disetujui dan dijadwalkan tanggal operasinya.

Berikut adalah rincian estimasi biaya sementara, yakni sebesar Rp19.013.000 :


Posterior nasal neurectomy

1 minggu sebelum operasi, mama ku cukup ragu atas tindakan yang ingin diambil dan menyarankanku untuk pergi ke dokter lain agar punya 2 perspektif. Lalu, kami pergi ke RS Khusus Bedah SS Medika untuk bertemu dengan Prof. dr. Helmi Sp. THT atas rekomendasi kenalan mama yang katanya sangat pintar dan dapat diandalkan.

Beliau juga mendiagnosa hal yang sama seperti Dokter kedua, mengenai Allergic Rhinitis, konka hipertrofi, dan pembengkokan tulang hidung. Lalu ia menjelaskan bahwa ada 2 cara untuk mengatasinya, yaitu dengan obat (ia juga memberi info bahwa mungkin akan kambuh lagi setelah obat habis dikonsumsi) atau dengan operasi (dimana tidak wajib, namun jika tidak diatasi bisa terjadi komplikasi seperti sinusitis, pembengkakan konka rapat dengan dinding hidung, dan lain-lain).

Operasi tersebut dinamakan posterior nasal neurectomy (tindakan yang belum pernah kudengar sebelumnya, dan aku bersyukur menemukan metode ini), dimana tindakan yang dilakukan adalah mencari saraf alergi yang tidak diperlukan tersebut lalu mengangkatnya dengan tujuan agar hidung pasien tidak terlalu sensitif terhadap debu, bulu, dingin, dan sebagainya. Namun, reaksi alergi akan tetap ada, tapi akan jauh lebih berkurang dibanding sebelumnya. Jika berani, kalian dapat melihat detail tindakan yang dilakukan disini. Dalam kasus ini, Prof Helmi akan menggambungkan operasi posterior nasal neurectomy, reseksi concha, dan meluruskan tulang hidung menjadi 1 paket.

Pernyataan Prof Helmi membuatku bimbang dan ingin mengganti tindakan yang telah diputuskan sebelumnya. Aku mencoba menanyakan perbandingannya dengan Radio frequency for konka hipertrofi, dan beliau menjelaskan bahwa tindakan tersebut hanya dilakukan sekitar 15 menit dan hanya untuk short-term dimana dalam kurang lebih 4 bulan konka juga akan membesar kembali. Aku cukup kaget mendengarnya.

Pulang dari konsultasi dengan Prof Helmi, aku sempat mencari info dan mengetahui bahwa di Indonesia, dokter yang bisa melakukan tindakan posterior nasal neurectomy ini hanya ada 2 dan Prof Helmi salah satunya. Dan aku juga berkonsultasi dengan beberapa kenalan yang mengalami hal sama dan telah melakukan operasi sebelumnya (ada yang ditempat berbeda, ada juga yang di Prof Helmi). Hasilnya, ada yang sudah pernah menggunakan Radio frequency for hipertrofi namun memang tidak efektif,  dan sangat merekomendasikan Prof Helmi. Setelah beberapa pertimbangan tertentu, aku membulatkan tekad untuk merubah tindakan walau awalnya sempat takut karena operasi ini berhubungan dengan saraf.

Sesegera mungkin aku langsung mengurus perpindahan rumah sakit, tindakan, dan dokter dengan pihak asuransi yang syukurnya juga disetujui. Aku memutuskan untuk melakukan operasi dalam waktu dekat mengingat post-surgery hidung tidak boleh terkena debu dan mengambil kesempatan selama masih work from home walau jujur saja ada rasa takut juga bolak balik rumah sakit selama masa pandemi ini.

Berikut adalah rincian estimasi biaya sementara:


Atas keputusan pihak asuransi, benefit yang diberikan adalah kelas 2, yakni sebesar Rp28.350.826.


Pre-surgery 

1 hari sebelum operasi, hal yang perlu dilakukan adalah swab-test untuk membuktikan bahwa pasien tidak terjangkit COVID-19 di masa pandemi ini dan lab-test untuk memeriksa kesiapan tubuh pasien untuk di operasi.

Untuk swab-test diwajibkan dari pihak rumah sakit agar meminimalisir penyebaran virus corona dari pasien ke pasien lain ataupun tenaga medis. Sampel diambil di RS Medistra dengan cara:

  • Memasukkan cotton bud panjang ke lobang hidung kiri dan kanan bagian belakang untuk menambil sampel lendir
  • Memasukkan cotton bud panjang ke tenggorokan untuk mengambil sampel air liur
Setelah sampel diambil, rasanya langsung ingin bersin-bersin karena hidung terasa gatal dan terasa ingin muntah karena cotton bud dimasukkan terlalu dalam. Walaupun biasanya hasil keluar cukup lama, namun karena pasien didaftarkan oleh pihak rumah sakit dan untuk keperluan operasi jadi hasil dapat didahulukan.

Kemudian, lab-test dilakukan di Pramita Lab dan sampel yang diambil adalah sebagai berikut:
  • Pengambilan sampel darah di lengan sebanyak 4 tube
  • Menghitung waktu pembekuan darah dengan menembakkan jaruh ke kuping (normalnya kurang dari 4 menit)
  • Pengambilan sampel urin
  • Pengambilan ronsen paru-paru
  • Pemeriksaan jantung dengan EKG

Pemeriksaan swab-test dan lab-test dilakukan di pagi hari, dan hasilnya keluar di sore hari dan pasien konsultasi dengan Dr. Internist mengenai operation-readiness. Jika hasil swab-test adalah negatif dan Dr. Internist menyatakan kondisi tubuh pasien siap untuk dioperasi, baru operasi secara resmi dapat dilakukan. Selain pemeriksaan, syarat lain yang perlu dilakukan sebelum operasi adalah makan maksimal 6 jam sebelum operasi, dan minum maksimal 4 jam sebelum operasi.

The surgery day

Hari H operasi sudah tiba. Aku berusaha mengeluarkan isi perut agar tidak merasa mules detik-detik sebelum operasi. Hingga akhirnya merasa lapar kembali namun operasi belum kunjung dilakukan. Setelah berganti pakaian, pengukuran tensi, dan menyuntikkan jarum untuk obat anestesi, aku berbaring menunggu Dokter datang. Setelah persiapan operasi selesai, aku pindah ke ruang operasi dan diberikan obat anestesi sambil diajak bicara oleh Dokter Anestesi hingga merasa pusing dan tiba-tiba hilang kesadaran tidak sampai 2 menit.

Operasi dilakukan sekitar 1 jam 30 menit tapi tentunya tidak terasa apa-apa. Setelahnya aku diberikan jarum infus, tampon pada hidung untuk menampung darah yang mengalir, obat untuk membangunkanku, dan dipindahkan ke kamar inap (kasur ditinggikan agar darah tidak beku di kepala). Aku masih tertidur 2 jam setelah operasi. Lalu bangun kembali, hanya saja masih sedikit pusing dan lemas. Perasaan ngantuk masih ada namun sulit sekali untuk tertidur dengan mulut terbuka, terutama malam pertama, benar-benar sulit untuk tertidur pulas (tidur bangun tidur bangun).

Setelah operasi dilakukan, perawat beberapa kali masuk ke kamar inap untuk membantu mengganti tampon yang sudah terisi penuh (1-2 jam sekali, semakin lama semakin sedikit frekuensinya),  mengukur tensi (biasanya rendah setelah operasi) dan memeriksa apakah ada pendarahan di tenggorokan (sore, malam, dan pagi hari).

Sebelum pulang dari rumah sakit, pasien kontrol kembali dengan Prof Helmi untuk diberikan 4 gumpalan kapas panjang yang dimasukkan ke hidung (2 kiri 2 kanan) berisi obat bius lokal dan obat yang berfungsi untuk mengempiskan lapisan hidung yang bengkak agar dapat dibersihkan dengan cara disedot.

Berikut adalah rincian biaya final setelah pulang dari rumah sakit, yakni sebesar Rp36.480.331:

Terdapat selisih biaya yang perlu dibayarkan karena limit benefit dan swab-test yang tidak ditanggung oleh pihak asuransi.

Post-surgery

Saat menulis ini, tahap yang sedang kulalui adalah post-surgery. Dimana pasca operasi perlu dilakukan kontrol di hari ke 5, 10, dan 17 (kontrol selanjutnya dilakukan apabila perlu). Setiap kontrol, Prof Helmi akan melakukan tindakan yang sama seperti saat sebelum pulang dari rumah sakit, yakni membersihkan sisa-sisa darah dan ingus yang ada pada hidung. Prof Helmi juga memberikan beberapa obat seperti Clavamox sebagai antibiotik, Aerius, Ponstan (diminum apabila terasa nyeri), dan Afrin spray yang fungsinya untuk membuat bengkaknya kempes sementara dan hanya dapat dikonsumsi maksimal 1 minggu penggunaan secara rutin (pagi dan malam hari).


Sejauh ini penderitaan pasca operasi yang dialami adalah:

  • Dinding hidung bengkak sehingga tersumbat dan perlu bernafas dari mulut
  • Darah dan sisa ingus bekas operasi terkadang masih menetes keluar dari hidung
  • Tenggorokan kering dan gatal bekas diberikan alat bantu pernafasan saat operasi
  • Suara ketika berbicara menjadi bindeng dan serak
  • Bibir dan mulut kering hingga sariawan
  • Sulit tidur hingga mendengkur saat berhasil tertidur
Karenanya, saat ini aku sedang dalam proses recovery selama 1 minggu dan mengajukan sick leave ke kantor tempatku bekerja. Prof Helmi mengatakan pembengkakan akan segera mengecil dalam 1 hingga 2 minggu (berbeda-beda setiap orang) dan dampak baru akan benar-benar dirasakan setelah 1 bulan. Hingga detik aku menulis ini, aku masih mengalami penderitaan ini dan aku harap penderitaan pasca operasi ini dapat segera pulih dan dapat kembali beraktifitas normal. (Mungkin cerita ini akan saya edit dan ditambahkan kembali apabila hasilnya sudah mulai terasa)

Demikian cerita yang dapat diberikan, dengan menulis ini, harapannya orang lain jadi mengerti penderitaan yang dialami pasien Allergic Rhinitis, juga pasien yang mengalaminya dapat teredukasi dengan cerita pribadi dan dapat mengambil tindakan yang sesuai.

Terima kasih sudah membaca!